Pembahasan Seputar  Al-Qur’an

oleh: Guntur Gumelar

1.      Penamaan Surat Al-Qur’an

Mengutip keterangan dalam kitab Al-Burhān fi Ilmil Qur’ān, bahwa Al-Qur’an dinamai sebanyak 55 nama dan keterangan mengenai surat yaitu 114 surat. Penamaan surat sesuai dengan tartibnya yaitu sama seperti apa yang di tulis di Lauhil Mahfudz.[1] Banyaknya surat Al-Qur’an 114 menjadi 115 surat serta surat Al-Fatihah, kalau secara umum surah yang di turunkan di Mekkah 85 surat, sedangkan di Madinah 30 surat. Al-Qur’an merupakan Wahyu Allah Swt. yang menjadi mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an pasti di kenal oleh seluruh ummat Muslim tidak hanya Indonesia, di belahan penjuru dunia pasti mengenal nama Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kalam Allah.[2] Dengan melihat sahihnya sejarahnya bahwa turunya ayat pertama yaitu bacalah atau iqra kemudian setelah itu Al-Qur’an berangsur-angsur ayat turun baik di Mekkah dan ketika Nabi berada di Madinah dan para ahli menyepakatinya.[3]

Nama-nama Al-Qur’an jika kita rinci dari sejarahnya yang sudah di jelasakan di atas maka perlu kita melihat ke belakang, akan di berikan jawaban pada penjelasan di bawah sebagai penguatan keimanan kita terhadap wahyu Ilahi. Berikut nama-nama Al-Qur’an yang di kutip oleh KH. Ahmad Sanusi (1888-1950) dalam kitab tafsir Maljau at-Thâlibīn fī Tafsīr Kalâm Rabb al-‘Âlamīn Juz 1-10: 1, Al-Mubin, Karim, Kitab, Qurân, Kalâm, Nur, Hudan, Rohmah, Furqan, Syifa, Mauidhoh, Dzikr, Mubarok, Aliyyun, Hakim, Hikmah Balighoh, Mushoddiq, Muhaimin, Hablullah, Shirotol Mustaqiim, Qayyim, Qaulul Fashl, Nabaun Adhim, Ahsanal hadis, Matsani, Munasabah, Tanzil, Ruh, Wahy, Arabiyy, Bashoir, ‘Ilm, Bayan, Qashasul Haq, Hadi, ‘Ajab, Tazkiroh, Al-Urwatul Wutsqa, Shidq, Adl, Amar, Busyro, Munadhi, Majid, Zabur, Basyir, ‘Aziiz, Balagh, Ahsanal Qashas, Suhuf, Mukarromah, Marfu’ah, Muthohharoh.[4]

Mukjizat Al-Qur’an itu abadi, dapat dibuktikan, disaksikan, di pahami dengan kacamata pengetahuan (akal), sebagaimana Al-Qur’an bisa dijangkau oleh indra dan bisa pula bersifat aqliyah (inteleltual)[5]. Sahiron Syamsudin dalam kata pengantar buku berjudul Sababun Nuzul bahwa Al-Qur’an di turunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw melalui malaikat Jibril as secara berangsur-angsur selama kurang lebih 22 tahun.[6] Kita sepakati bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang Allah Swt berikan kepada Nabi Muhammad Saw yang di dalamnya memiliki sisi kemukjizatan, di antaranya; kemukjizatan Al-Qur’an tentang kisah-kisah ummat terdahulu, nilai kefasihan dan keindahan uslubnya dan keselamatan dari segala macam cacat, kesinambungan kefasihan dan balaghah dan lain sebagainya.[7]

Al-Qur’an secara otomatis lebih mudah dan dapat di percaya dari sisi sejarah dan dari riwayat yang sahih, dari sini kita memahami bahwa Al-Qur’an merupakan karya terbesar yang sangat banyak di kaji oleh dari kalangan ahli hadis, ahli fiqih atau ahli tasawuf sehingga kemurniannya selalu terjaga.[8] Seperti karya-karya besar yang menjelaskan tentang Al-Qur’an; Al-itqan fi Ulumil Quran karya Imam Jalaludin As-Suyuti, Al-Burhan fi Ulumil Quran karya Imam Az-Zarkasy.

Nama Al-Qur’an disebut sekitar tujuh puluh ayat, Imam As-Syafi’i mengatakan bahwa “Al-Qur’an sebuah nama khusus diperuntukan kepada kalam Allah”. Dari sini kita memahami bahwa nama Al-Qur’an adalah kata yang tepat dan pas.[9] Melihat bahwa dalam proses pengumpulan Al-Qur’an, bahwa ketika Rasulullah sebelum wafat ayat-ayat Al-Qur’an ditulis di berbagai media seperti; pelepah-pelepah kurma, lempengan-lempengan batu, kain-kain, kulit-kulit, tulang-tulang dan pelana-pelana unta. Pengumulan ayat-ayat Al-Qur’an adalah misi khalifah Abu Bakar dan sahabatnya Umar bin Khatab yang khawatir hilangnya pedoman agama, penuntun kebenaran Islam dalam kehidupan oleh karena itu keduanya menunjuk seorang yang hafidz bernama Zaid bin Tsabit.[10]

 

2.      Asbab Nuzul

Sebelum mengetahui lebih jelas tentang arti asbab nuzul perlu kiranya memperhatikan sejarah perkembangannya. Setidaknya ada tiga periode; pertama pada abad pertama hingga pertengahan abad kedua hijriyah, kedua paruh terakhir abad kedua hingga abad keempat hijriyyah, ketiga, dimulai abad ke-5 hijriyyah.[11] Setidaknya ketiga periode di atas ada beberapa karya yang terlahir yang membahas tentang sebab-sebab turunyya ayat Al-Qur’an. Hal ini membantu dalam upaya memahami urgensi ayat yang turun, guna memahami makna sebuah ayat.

Tanpa pemahaman terhadap Asbabun Nuzul, interpretasi ayat-ayat Al-Qur’an berisiko mengarah pada kesalahan atau penyimpangan dari maksud dan tujuan asli wahyu. Setiap ayat Al-Qur’an sering kali turun dalam konteks sosial, budaya, atau historis tertentu yang mempengaruhi makna dan penerapannya. Ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum, etika, atau prinsip moral, jika diabaikan latar belakang sejarahnya, dapat digunakan dengan cara yang tidak sesuai dengan semangat dan esensi ajaran Islam.[12] Oleh karena itu sangat penting sekali bagi kita mempelajari ilmu seperti ini, agar tidak menjadi salah dalam menafsirkan Al-Qur’an dan menyampaikan kepada khalayak umum.

Kata “Asbâbyaitu bentuk jama’ dari kata “Sababyang berarti sesuatu yang dapat menyebabkan terjadinya atau turunnya sesuatu yang lain atau hal yang menjadikan timbulnya sesuatu. Setidaknya kata asbab memiliki beberapa makna, yang pertama hubungan dan tali penyambung, bermakna tali, bermakna pintu. Sedangkan kata nuzul berarti jatuh atau turun.[13]. Alangkah butuhnya kita mempelajari ilmu Asbabun Nuzul, sebagaimana seorang tokoh yang bernama Imam Al-Wahidi (w.468 H) yang menjadi peletak dasar ilmu asbabun nuzul, kemudian seiring berjalannya zaman muncul tokoh yang bernama Imam As-Suyuthi yang menyempurnakan tulisan-tulisan sebelumnya.[14] Agar bisa memahami istilah ini maka kita harus memahami masing-masing dari dua kata tersebut yang kemudian digabungkan menjadi satu yaitu asbabun nuzul yang di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “ Sebab-sebab turunya ayat Al-Qur’an”.

Pada muqaddimah kitab Asbabun Nuzul ia mengatakan menukil “Dan kami Al-Qur’an itu menjadi beberapa bagian, agar kamu membacanya kepada manusia secara berangsur-angsur, dan kami telah menurunkannya dengan berangsur-angsur” salah satu riwayat yang ia terima dari Syekh Al-Asfahani bahwa Al-Qur’an di turunkan yaitu berbentuk peringatan, perjanjian, mukjizat, tanda-tanda kebesaran Allah Swt, dan lain-lain.[15] Mengetahui sebab turunya ayat memiliki banyak manfaat, di antaranya mengetahui arti ayat, sebagaimana Al-Wahidi mengatakan “tidak mungkin dapat memahami tafsir sebuah ayat tanpa mengetahui kisahnya atau mengetahui penjelasan sebab turunnya”. Begitu juga yang dikatakan oleh Ibn Taimiyyah mengetahui sebab turunya ayat dapat membantu dan memahami makna ayat tersebut, sesungguhnya mengetahui sebab, akan mewarisi pengetahuan terhadap apa yang disebabkannya.[16] Al-Wahidi juga mengatakan dalam kitabnya bahwa tidak di perbolehkan berkata dalam sebab turunya ayat kecuali dengan riwayat atau mendengar dari mereka yang menyaksikan wahyu turun, dan mengetahui sebab turunnya ayat dan mecari ilmunya.[17] Pemahaman terhadap sebab-sebab turunya Al-Qur’an adalah disiplin ilmu, guna untuk memahami makna yang terkandung dan pesan yang disampaikan Al-Qur’an.

3.      Munasabah Ayat

Al-Munâsabah juga disebut Al-Muqârabah atau Al-Qorîb yang berarti kedekatan. Al-Munâsabah adalah perkara yang masuk akal dan jika ditunjukkan kepada akal maka akan di terimanya, seperti halnya hubungan antara hubungan permulaan dan akhir sesuatu dan tempat kembalinya.[18] Pengertian di atas adalah upaya korelasi antara ayat dengan ayat, surat dengan surat yang membantu pemahaman terhadap Al-Qur’an.[19] Al-Munâsabah secara bahasa adalah Al-Musyâkalah (persamaan) dan Al-Muqârâbah (kedekatan), yaitu tempat kembalinya ayat-ayat kepada suatu makna yang memiliki hubungan dengannya, baik yang umum dan yang khusus, yang bersifat logika, indrawi, khayalan dan hubungan-hubungan selainnya atau keterkaitan dengan yang bersifat logika, seperti antara sebab dan akibat, antara dua hal yang sepadan, dua hal yang berlawanan dan sebagainya. Adanya pengetahuan tentang Munasabah di dalam Al Qur’an ini di dasarkan pada suatu pendapat bahwa susunan ayat, urutan kalimat dan surat-surat dalam Al-Qur’an disusun secara tauqifi bukan ijtihadi. Karenanya penempatan ayat, kalimat dan surat tersebut berdasarkan tauqifi, itulah yang hendak kita cari, sebab dibalik penempatan ayat dan surat seperti itu tentu ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Sebaliknya pendapat yang mengatakan bahwa susunan ayat, urutan kalimat dan surat-surat dalam Al-Qur’an di susun secara ijtihadi jelas akan meruntuhkan teori munasabah dalam Al Qur’an.[20]

Manna’ Al-Qaththân mendefinisikan al-Munâsabah secara singkat dan sederhana sebagai berikut “bentuk hubungan antara satu kalimat dengan kalimat lain dalam satu ayat, atau antara satu ayat dengan ayat lain dalam satu kelompok ayat, atau antara satu surah dengan surah yang lain.”[21] Ilmu munâsabah Al-Qur’an sangat penting dan dibutuhkan oleh siapa saja yang hendak menafsirkan Al-Qur’an, karena dengannya bisa ditemukan keserasian antara satu ayat dengan ayat sebelumnya, atau keserasian dalam satu kalimat dengan kalimat setelahnya. Bagi mereka yang belum memahami ilmu ini, pasti akan mengira bahwa Al-Qur’an ini tidak tersusun secara sistematis, akan tetapi setelah dipelajari dan dipahami maka ia akan sadar karena keindahan Al-Qur’an ini sangat luar biasa bahkan sampai keserasian ayat pun sangat sistematis, yang tentunya berbeda dengan sistematika karya ilmiah buatan manusia. Imam Suyûthi juga mengatakan sangat penting memahami ilmu munâsabah bagi para mufasir, namun sedikit sekali yang memperhatikan ilmu ini.[22]

4.      Tafsir Tematik Surat

Tafsir maknanya adalah menjelaskan dan mengupas makna, tafsir juga sebuah nama alat yang digunakan untuk mengetahui makna yang terkandung dalam Al-Qur’an.[23] Ar-Raghib Al-Asfahani mengatakan bahwa “tafsir itu lebih umum maknanya daripada takwil. Istilah tafsir kebanyakan digunakan pada lafal-lafal dan makna-maknanya. Sedangkan penggunaan takwil itu kebanyakan pada makna kalimat-kalimat dan lebih banyak digunakan pada kitab-kitab yang diturunkan oleh Tuhan. Sedangkan tafsir digunakan padanya dan pada yang lainnya”. Dari sini kita mengetahui bahwa tafsir sebuah metode yang digunakan dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an.

Imam Al-Maturidi berkata “Tafsir itu menegaskan bahwa yang dimaksud dengan lafal ini adalah makna ini dan menyaksikan bahwa Allah menghendaki makna itu, jika ada dalil qath’i maka diterima, dan jika tidak ada maka tafsir bil ra’yi (dengan pendapat) yang dilarang. Sedangkan takwil adalah mentarjih di anatara makna-makna yang mungkin tanpa menegaskan dan tanpa mempersaksikan kepada Allah”. dari penjelasan yang disampaikan oleh Imam Al-Maturidi, dapat dipahami bahwa tafsir makna yang dikaji hendaknya diperkuat dengan dalil-dalil yang jelas, dengan ilmu-ilmu yang membantu menegaskan makna lafal yang ditafsirkan, tidak serta menggunakan pemikiran berdasarkan akal pendapat pribadi.

Imam Az-Zarkasyi juga berpendapat “ tafsir adalah ilmu yang membahas kitab Allah yang diturunkan kepada Rasulullah Saw, dan menjelaskan makna-maknanya, mengeluarkan hukum-hukum dan hikmah darinya dan merujuk semua itu dari ilmu bahasa, nahwu shorof, ilmu bayan, ushul fiqih, dan qiro’at-qiro’at. Dan seorang ahli tafsir membutuhkan pengetahuan terhadap asbabun nuzul, yang menasakh dan yang dinasakh.” Penjelasan Az-Zarkasyi, lebih kepada kebutuhan kepada seorang yang akan dan sedang mentafsirkan ayat-ayat Allah, maka harus dibutuhkan beberapa pun keilmuan Islam di atas.[24]



[1] KH. Ahmad Sanusi, Maljau Tholibin Fi Tafsiri Kalami Rabbil Aalaamin Juz 1-10, (Al-Ittihad, Sukabumi 1931), h.2-3 lihat. KH. Ahmad Sanusi, Tamsiyyatul Muslimin Fi Tafsiri Kalami Rabbil Aalaamin Jilid 1, (Al-Ittihad, Sukabumi 1931), h. 5.

[2] KH. Ahmad Sanusi, Maljau Tholibin Fi Tafsiri Kalami Rabbil Aalaamin Juz 1-10, (Al-Ittihad, Sukabumi 1931), h.6.

[3] Ramli Harun, Sejarah Al-Quran, (Jakarta: P3 Bahasa Depdikbud, 1996), h. 35.

[4] KH. Ahmad Sanusi, Maljau Tholibin Fi Tafsiri Kalami Rabbil Aalaamin Juz 1-10, (Al-Ittihad, Sukabumi 1931), h.2-3 lihat. KH. Ahmad Sanusi, Tamsiyyatul Muslimin Fi Tafsiri Kalami Rabbil Aalaamin Jilid 1, (Al-Ittihad, Sukabumi 1931), h.4-5.

[5] Imam Jalaludin As-Suyuthi, Al-Itqan Fi Ulumil Quran Terjemah Farikh Marzuki Amar, Imam Jazuli, Samudera Ulumul Quran, Jilid 4 (Surabaya, PT Bina Ilmu Surabaya, 2006), h. 1-2.

[6] Muammar Zayn Qadafy, Sababun Nuzul: Sebuah Kajian Epistemologis, (Yogyakarta, In Azna Books, 2015), h. Ix.

[7] Imam Jalaludin As-Suyuthi, Al-Itqan Fi Ulumil Quran Terjemah Farikh Marzuki Amar, Imam Jazuli, Samudera Ulumul Quran, Jilid 4 (Surabaya, PT Bina Ilmu Surabaya, 2006), h. 9.

[8] Daniel Djunaed, Antropologi Al-Quran, (Jakarta, Erlangga, 2011), h.4-5.

[9] Ramli Harun, Sejarah Al-Quran, (Jakarta, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, 1996), h. 62.

[10] Ramli Harun, Sejarah Al-Quran, (Jakarta, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, 1996), h. 63.

[11] Muammar Zayn Qadafy, Sababun Nuzul: Sebuah Kajian Epistemologis, (Yogyakarta, In Azna Books, 2015), h.2-4.

[12] Muh. Samsunar, Nasrullah Bin Sapa, Halima Basri, Asbabun Nuzul: Konsep Dan Relevansinya Dalam Memahami Al-Quran (MUSHAF JOURNAL : Jurnal Ilmu Al Quran dan Hadis Vol. 5 No. 1 April 2025) h. 11.

[13] H. Sardana, Pondasi Dasar Memahami Ulumul Quran (Jakarta, PTIQ, 2023), h.62.

[14] Andi Muh Syahril dan Yasir Maqasid, Asbabun Nuzul: Sebab-sebab Turunyya Ayat Al-Quran, (Jakarta, Pustaka Kautsar, 2015), h. x.

[15] Imam Abi Hasan Ali bin Ahmad Al-Wahidi, Asbabun Nuzul (Beirut, Darul Kitab Al-Ilmiyyah, 1991), h. 9.

[16] Andi Muh Syahril dan Yasir Maqasid, Asbabun Nuzul: Sebab-sebab Turunyya Ayat Al-Quran, (Jakarta, Pustaka Kautsar, 2015), h. XV.

[17] Imam Abi Hasan Ali bin Ahmad Al-Wahidi, Asbabun Nuzul, ...... h. 10.

[18] H. Sardana, Pondasi Dasar Memahami Ulumul Quran, (Jakarta, PTIQ, 2023), h.139.

[19] Amroeni Drajat, Ulumul Quran” Pengantar Ilmu-ilmu Al-Quran, (Jakarta, Kencana,2017) , h. 55.

[20] Ah.Fauzul Adlim, Teori Munasabah Dan Aplikasinya Dalam Al Qur’an (Al Furqan: Jurnal Ilmu Al Quran dan Tafsir, Volume 1 Nomor 1 Juni 2018), h. 16.

[21] Manna’ Al-Qaththân, Mabâhis fi Ulumil Quran, Cet. 3 (Riyad, Mansurat Al-‘Asr al Hadits, 1973), h. 137.

[22] H. Sardana, Pondasi Dasar Memahami Ulumul Quran, (Jakarta, PTIQ, 2023), h.147.

[23] Imam Jalaludin As-Suyuthi, Al-Itqan Fi Ulumil Quran Terjemah Farikh Marzuki Amar, Imam Jazuli, Samudera Ulumul Quran, Jilid 4 (Surabaya, PT Bina Ilmu Surabaya, 2006), h. 237-238.

[24] H. Sardana, Pondasi Dasar Memahami Ulumul Quran, (Jakarta, PTIQ, 2023), h.211 Lihat. Imam Jalaludin As-Suyuthi, Al-Itqan Fi Ulumil Quran Terjemah Farikh Marzuki Amar, Imam Jazuli, Samudera Ulumul Quran, Jilid 4 (Surabaya, PT Bina Ilmu Surabaya, 2006), h. 240.

Komentar

Postingan Populer