Surah Al-Waqiah ( Studi Al-Quran)
Oleh : Guntur Gumelar
Sunda dengan segala aspek budaya yang di milikinya, tersimpan dan
terkadang terpendam bahwa menjadi hamba yang bermanfaat penuh perjuangan dan
tantangan dalam melahirkan atau menciptakan suatu karya. Karya yang akan bermanfaat
sampai saat ini merupakan hasil jerih payah, keringat, bahkan darah yang
menetes bahkan tubuh yang tersiksa atas kekejaman penjajah Belanda yang
mengakibatkan problem yang sangat besar bagi khalayak masayarakat yang memiliki
panutan atau tuntunan yang sangat di hormati. Datangnya Islam ke Tatar Sunda,
Priangan atau dikenal sekarang JAWA BARAT sekitar abad ke -16,[1] yang
mana pada abad ini perjuangan dalam menyebarkan Islam oleh Wali Songo ini menjadi peran yang sangat besar dan penting sekali bagi kehidupan masyarakat pada
saat itu.
Islam yang disampaikan oleh Wali
Songo mendapat begitu tantangan dahsyat, tidak hanya masyarakat setempat
melainkan tokoh-tokoh yang berperan dalam menjaga dan mempertahankan tradisi
budaya sesuai dengan ajaran kepercayaannya. Latar belakang hadirnya Wali Sanga di bumi Nusantara tepatnya di
tanah Jawa di antaranya peran penting seorang Sultan Muhammad 1.[2] Ia
merupakan Sultan pada masa Khalifah
Turki Utsmani. al-Qurān sebagai
sumber kehidupan yang di ajarkan dan di sampaikan oleh para ‘Ulama yang di dalamnya terdapat Wali Sanga merupakan awal proses di
antara beberapa proses dan cara untuk Islamisasi di Jawa sebagai langkah
mengenal Islam secara perlahan-lahan.[3]
Perkembangan pemahaman terhadap al-Qurān dengan cara menerjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Sunda
dilakukan oleh seorang Ajeungan atau Kyai.
Penyebutan Ajeungan atau Kyai merupakan sebagai bentuk
penghormatan dari masyarakat karena memiliki pemahaman dalam agama Islam,[4]
Salah satu contohnya adalah Kiai Haji Hasan Mustofa (1850-1930), Kiai Haji
Ahmad Sanusi (1888-1950) dll.[5]
Nama-nama tersebut adalah pelaku sekaligus pengarang Tafsir-Tafsir berbahasa
Sunda, produktifitas menulis dan mengarang Tafsir Al-Qur’ān, menerjemahkan Al-Qur’ān
dengan metode, corak dengan berbeda dalam memahami dan menjelaskan isi Al-Qur’ān tentunya ini menjadi ciri
khasnya.
Kiai Haji Ahmad Sanusi (1888-1950) sebagai salah satu diantara
beberapa Mufassir Sunda dalam perjalanannya dalam menulis, mengarang suatu
kitab tentu di hadapi dengan sebuah tantangan yang sangat besar, baik dari
penjajah, bahkan masyarakat setempat yang merasa tidak sejalan dengan
pemikirannya. Produktifitas menulis yang di lakukan oleh Kiai Haji Ahmad Sanusi
(1888-1950) merupakan sebagai sarana dakwah, menjaga harkat martabat perjuangan
Islam, yang pada saat itu penjajah Belanda sangat membenci Kiai atau Ajeungan bahkan
berani memenjarakan dan membunuh. Hal ini menjadi gambaran dalam menulis suatu
karya Tafsir Al-Qur’ān yang bisa
mempengaruhi bahasa, keadaan dan gagasan terhadap Al-Qur’ān yang di artikan dan di tafsirkan kedalam bahasa Sunda dan
bahasa Melayu yang dikarang oleh Kiai Haji Ahmad Sanusi (1888-1950).[6]
Di awali dengan kalimat
بسم اللَه الرَحمن الرَحيم الحمد للَه وحده والصَلاة والسَلام على من
لا نبي بعده أمَا بعد
dalam kitabnya yang
berjudul Kasyf as-Sa’âdah fī Tafsīr Sūrah
Wâqi’ah dengan terjemah Ngabukakeun Kabagjaan Nerangkeun Kana tafsir
Surat Waqi’ah bahwa Kiai Haji Ahmad
Sanusi (1888-1950)
adalah seorang yang mempertahankan bahasa daerah yaitu Sunda. Pernyataannya
tentang kitab ini bahwa beliau menceritakan menulis tafsir ini secara detail,
ia juga menyatakan bahwa ia menukil dari beberapa kitab Tafsir Kabir karya Ibn Jarir At-Tahobari, Tafsir Ad-Dur Mansur, Tafsir
Abi Su’uud, Tafsir Madaariu at-Tanzil dan dari Tafsir Lubaabu Ta’wil.[7] Kiai Haji Ahmad Sanusi (1888-1950) pula memberikan
keterangan tentang keutamaan surah Al-Waqi’ah dengan mencantumkan hadis-hadis,
dan juga memberikan penjelasan perihal diturunkannya surah ini secara singkat
padat dan jelas.
Penulisan
kitab Kasyf as-Sa’âdah fī Tafsīr Sūrah
Wâqi’ah oleh
Kiai Haji Ahmad Sanusi (1888-1950), ia menulis dengan menggunakan bahasa
Sunda dengan aksara arab (pegon). Hal ini kita bisa lihat bahwa, dalam
menulis kitab tersebut dengan menempatkan ayat atau menuliskan ayat berada di
luar dan samping penjelasan atau
penafsiran.
Foto 1:
Halaman 2 dan 3
Kitab Kasyf as-Sa’âdah
fī Tafsīr Sūrah Wâqi’ah
Sumber: dokumentasi Guntur Gumelar, 10/10/2018
Kitab
Kasyf as-Sa’âdah fī Tafsīr Sūrah Wâqi’ah adalah salah satu
dari beberapa karya tafsir yang di tulis oleh Kiai Haji Ahmad Sanusi (1888-1950),
yang menjadi objek penelitian terhadap kitab ini, mengupas segala permasalahan-permasalahan
yang berkaitan dengan kehidupan manusia kelak setelah meninggalkan kehidupan
dunia untuk selama-lamanya. Tentunya kajian kitab tafsir Kasyf as-Sa’âdah fī Tafsīr Sūrah Wâqi’ah secara ilmiah belum pernah di teliti, sebagaimana
penulisnya Kiai Haji Ahmad Sanusi (1888-1950) lebih banyak meneliti dari
sudut pandang sejarah, untuk kajian tafsir selain kitab ini seperti; Raudhatul ‘Irfan Fĩ Ma’rifāti al-Qurān, Tafsir Malja’ al-Thālibĩn fĩ Tafsĩr Kalāmi Rabb al-‘Âlamĩn sudah banyak mengkaji. Penelitian terhadap sebuah
karya tafsir lokal berbahasa Sunda, merupakan suatu kebahagiaan bagi peneliti,
tentunya pada penelitian terhadap karya tafsir Kasyf as-Sa’âdah fī Tafsīr Sūrah Wâqi’ah karya Kyai Haji Ahmad Sanusi (1888-1950) secara tegas akan
di kupas guna menyelesaikan sebuah penilitian. Tentunya penelitian ini tetap
mengacu pada rambu-rambu akademik dengan tidak plagiasi terhadap sebuah karya tulis ilmiah.
Rujukan-rujukan
yang di ambil Kiai Haji Ahmad Sanusi (1888-1950)
dalam menulis tafsir, tidak terlepas dengan latar belakang beliau sebagai
seorang ulama dan pejuang kemerdekaan yang mungkin bisa diketahui metode yang
di pakai. Metode penafsiran terhadap al-Qur’ān bisa di lihat dari berbagai
aspek, seperti Manhaz (Metode), Madzhab (aliran), Thoriqoh (cara), Ittizah
(orientasi) Laun (warna).[8]
Sebagai penulis yang produktif Kyai Haji Ahmad Sanusi (1888-1950)
diantara karya tafsir berbahasa Sunda yakni; Tafsĩr Raudhatul ‘Irfan Fĩ Ma’rifāti al-Qurān, Tafsir
Malja’ al-Thālibĩn fĩ Tafsĩr Kalāmi Rabb al-‘Âlamĩn.[9] Tafsĩr Raudhatul ‘Irfan Fĩ Ma’rifāti
al-Qurān yakni ditulis berdasarkan Juz dan diawali dari surah Al-Fatihah
diakhiri surah An-Naas. Sedangkan Tafsir Malja’ al-Thālibĩn fĩ Tafsĩr Kalāmi Rabb al-‘Âlamĩn terdapat 3 jilid;
jilid 1-10, jilid 11-20 dan jilid khusus juz 30.
Sebagai
seorang pejuang dan ulama, Ajeungan Kiai Haji Ahmad Sanusi (1888-1950) menghabiskan masa
hidupnya yaitu mencari ilmu, di lihat
dari masa kecil ia di perlakukan sebagai salah satu putra kiai dan di hormati
oleh para santri-santri saat itu.[10] Seiring
perkembangan waktu Ahmad Sanusi menimba ilmu atau istilahnya mesantren kepada
beberapa Kyai atau Ajeungan yang memiliki pesantren di Jawa
Barat, semangat perjuangan dalam mencari Ilmu agama ia lanjutkan ke Mekkah dan
bermukim di sana bersama istrinya. Latar belakang yang diketahui bahwa beliau
adalah seorang ulama yang sangat handal dan mumpuni di bidang ilmu agama serta
mampu dan sudah teruji oleh guru-guru yang di Mekkah, sehingga tak heran beliau
setelah pulang dari Mekkah ia di hormati dan di segani oleh masyarakat. Seperti
yang sudah di uraikan diatas bahwa Kyai Haji Ahmad
Sanusi (1888-1950) dalam produktifitasnya dalam menulis tidak di
ragukan, dan mengahsilkan karya tidak hanya tafsir, ada bidang ilmu Fiqih, ilmu
Tasawuf, dan juga bidang Tauhid.[11]
Penelitian
ini akan membahas kitab Tafsīr Sūrah
Wâqi’ah,
dalam Kitab Kasyf As-Sa’âdah Fī Tafsīr
Sūrah Wâqi’ah karya Kyai Haji Ahmad Sanusi
(1888-1950). Ada beberapa alasan dalam
mengambil judul di atas :
1. Karena surat Waqi’ah adalah media untuk melancarkan segala usaha,
sebagaimana dalam keterangan yang ditulis langsung oleh pengarangnya Kiai Haji
Ahmad Sanusi (1888-1950) dengan mencantumkan hadis Nabi.
2. Menilik pemikiran Kiai Haji Ahmad Sanusi (1888-1950) dalam menulis
kitab tafsir Sunda, dengan sejumlah keunikan-keunikan dalam menjelasakan
ayat-ayat Al-Qur’an; baik dari segi bahasa yang di gunakan, budaya, sejarah,
cerita-cerita tentang keadaan manusia setelah mati, dll. Sebagaimana dalam karya-karya tafsir ia menggunkan metode
yang dapat memudahkan para pembaca tafsir khususnya kalangan orang Sunda.
3. Keunikan dalam kitab Kasyf
As-Sa’âdah Fī Tafsīr Sūrah Wâqi’ah, penjelasan ayat menggunakan bahasa
Sunda aksara arab (pegon), penjelasan
luas dari tafsir sebelumnya yakni kitab tafsĩr
Raudhatul ‘Irfan Fĩ Ma’rifāti al-Qurān, penjelasan tafsir yang di
tulis, ayat-ayat yang di tulis terbagi
ke dalam penjelasan secara terpisah, seperti penjelasan ayat 1-9, 10-14, 15-19
dll. Menjelaskan ayat demi ayat tertulis kurang lebih 24 pembagian yang di
dalamnya terdapat do’a.
[1] Jajang A Rohmana, Sejarah Tafsir Al-Quran di Tatar Sunda,
(Bandung; Mujahid Press, 2014), h. 63.
[2] Rachmad Abdullah,
WaliSongo Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa (1404-1482M), (Solo: Al-Wafi,
2015) h. 13.
[3] Ishlah Gusmian, Khazanah Tafsir Indonesia, (Jakarta:
Teraju, 2003), h. 23.
[4] HM. Amin Haedari dkk, Masa Depan Pesantren, (Jakarta, IRD
Press, 2004), h. 28.
[5] Jajang A Rohmana, Sejarah Tafsir Al-Quran di Tatar Sunda,
(Bandung; Mujahid Press, 2014), h. 68.
[6] Jajang A Rohmana, Sejarah Tafsir Al-Quran di Tatar Sunda, ..... h. 71.
[7] KH. Ahmad Sanusi, Kasyfu As-Sa’aadah Fii Tafsiri Suurati
al-Waaqi’ah, (Tanah Tinggi, Kantor Cetak Sayid Yahya), h. 2.
[8] Hujair A, H. Sanaky,
Metode Tafsir: (Perkembangan Tafsir Mengikuti Warna atau Corak Mufassirin,
(Jurnal Al-Mawarid Edisi XVIII Tahun 2008) h. 265.
[9] Pangrodjong Nahdlatul
Oelama Tasikmalaja Jurnal Al Mawa’idz , No. 41
13 Oktober 1936.
[10] Wawan Hernawan, Se-Abad
Persatuan Ummat Islam (1911-2011), (Jawa Barat, YSMI, 2014), h. 60.
[11] Tim Peneliti A. Mujib
dkk Intelektualisme pesantren: Potret
Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di Era Perembangan pesantren (Jakarta: Diva
Pustaka 2003) h. 291 Lihat. Wawan
Hernawan, Seabad Persatuan Ummat Islam
(1911-2011) (Jawa Barat:YMSI, 2014)
h.79-85.



Komentar
Posting Komentar