PENAFSIRAN

KITAB KASYF AS-SA’ÂDAH FĪ TAFSĪRI SŪRATIL WÂQI’AH

KARYA KH. AHMAD SANUSI SUKABUMI (1888-1950)

oleh: Guntur Gumelar

 

A.    Seputar Surah Wâqi’ah

Surah Wâqi’ah adalah surah ke-56 jika kita melihat susunan dari mushaf Utsmani sekarang, Al- Wâqi’ah diturunkan pada periode Mekkah permulaan, pada urutan ke-46 dalam al-Qur‟an. Surah al- Wâqi’ah termasuk surah terakhir dari rangkaian 7 surah. Surah ini memiliki isi dan pesan kandungan bagi ummat manusia. Menurut Ibn Abbas surah Al- Wâqi’ah memiliki nama yaitu At-Thommatu (An- Nâzi’ah:34) dan As-Shokhotu (Abasa:33) dan merupakan peringatan besar bagi hamba-hamba-Nya. Surah al-Wāqi’ah ini merupakan salah satu surah di dalam Al-Qur’an yang mengandung banyak pengetahuan dan pelajaran yang bermanfaat bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun kelak di akhirat.[1]

Termasuk dalam golongan surah Makkiyah yang berjumlah 96 ayat. Nama Al-Waqiah yang bermakna “hari kiamat” diambil pada ayat pertama yang ada dalam surah tersebut. Pada Al-Qur’an surah Al-Waqi’ah berada setelah surah Ar-Rahman dan merupakan surah ke 56 dalam Al-Qur’an. Namun dijelaskan dalam asbabun nuzul, surah Al-Waqiah turun setelah surah Thaha. Diberi nama dengan Al-Waqi’ah karena di dalamnya banyak menceritakan tentang hari akhir yakni kiamat. Adapun pokok-pokok isinya menjelaskan tentang terjadinya hari akhir, penjelasan mengenai surga dan neraka dan juga perihal orang-orang yang sudah banyak berbuat dzalim juga diceritakan pula tentang orang yang beriman kepada Allah SWT.[2] Surah  Al-Waqi’ah menceritakan tentang keadaan Hari akhir yaitu Kiamat juga masalah yang akan terjadi sebelum terjadinya peristiwa Kiamat, seperti manusia nanti terbagi menjadi 3 golongan yaitu pertama golongan orang yang berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan, kedua kelompok kanan, dan ketiga kelompok kiri. Surah Al-Waqi’ah juga menceritakan bahwa akan terjadi hisab di akhirat, gambaran adanya syurga dan neraka, serta jawaban bagi mereka yang mengingkari adanya Tuhan.

Pokok isi surah Al-Waqi’ah ketika ditegakkan hari hisab manusia ternyata manusia di bagi menjadi tiga golongan, yaitu golongan yang berlomba dalam melakukan kebaikan, golongan kanan, dan golongan kiri yang celaka juga balasan yang mereka peroleh dari setiap golongan, Tanggapan Allah SWT pada mereka orang yang mengingkari adanya Tuhan, Al-Qur’an ini sumbernya dari Lauhul Mahfuz, serta kenikmatan syurga yang akan mereka terima.

Tema surah ini adalah uraian tentang hari Kiamat dan penjelasan tentang apa yang akan terjadi di bumi, serta kenikmatan yang akan diperoleh orang-orang bertaqwa dan apa yang akan dialami oleh orang-orang yang durhaka. Demikian kurang lebih kesimpulan banyak ulama. Al-Biqa’i berpendapat bahwa surah ini merupakan penjelasan dari apa yang diuraikan pada surat Ar-Rahman yakni surah sebelumnya. Al-Biqa’i berpendapat dalam surah Al-Waqi’ah ada penjelasan terkait tiga kelompok: Pertama, mereka yang tampil lebih taat dari orang-orang yang taat sebelumnya yang dekat dengan Allah. Kedua, adalah mereka orang yang taat dibawah orang-orang yang taat pada penjelasan kalimat pertama kelompok ketiga, adalah mereka dari kelompok jin dan manusia yang secara terbuka melakukan pendurhakaan kepada Allah SWT dan bersifat munafik. Maksud dari pendapat Al-Biqa’i yang menyebutkan bahwa dalam surah Ar-Rahman ada dua tingkat syurga, tingkat pertama yang akan ditempati oleh mereka yang bersikap mendahului orang-orang taat yang dalam surah ini disebut dengan golongan As-Sabiqun, tingkatan syurga yang kedua akan ditempati oleh golongan Ash-hab al-Yamin. Dan tingkatan yang ketiga akan di tempati oleh para pendurhaka yang menerima balasan dari neraka yang disebut golongan Ash-hab al-Masy’amah dalam surah Ar-Rahman diberi peringatan dengan berbagai siksa Illahi.[3]

Dalam surah al-Wāqi’ah juga terdapat kandungan, do’a, kabar gembira dan sejarah, yang dapat menjadikan hati pembaca terbuka akan nilai kebesaran dan kekuasaan-Nya. Hal ini dikarenakan banyak pelajaran dan hikmah dari ayat-ayat surah al-Wāqi'ah, yang menjelaskan tentang dahsyatnya peristiwa hari kiamat, pedihnya orang yang masuk dalam golongan kiri, kerugian bagi orang yang mendustakan nikmat-Nya, penyesalan meraka ketika bertempat tinggal di neraka. Sebaliknya, berbahagialah orang yang masuk golongan kanan dan orang-orang yang bersegera dalam menjalankan kebaikan, karena mereka masuk dalam surga yang belum pernah ada selama di dunia.[4] Banyak kaum muslimin yang menjadikan surah al-Wāqi’ah sebagai amalan dan dibaca setiap malam ataupun pagi hari, mereka percaya bahwa surah al-Wāqi'ah mempunyai fadilah atau keutamaan yang berkaitan dengan rezeki, mereka membaca surah tersebut untuk kelancaran ekonominya. Mereka meyakini surah al-Waqi’ah dapat melancarkan rezeki karena mereka mengetahui ataupun mendengar bahwa ada hadis-hadis yang berbicara tentang keutamaan surah al-Wāqi’ah dapat melancarkan rezeki dan ada ulama serta mufassir yang berpendapat tentang keutamaan surah al-Wāqi’ah.

Dinamakan surah Al-Waqi’ah karena awal surah dimulai dengan ayat idzâ waqoatil wâqiah yaitu apabila terjadi hari Kiamat maka pasti akan terjadi. Surah Al-Waqi’ah tergolong surah Makiyyah menurut pendapat yang shahih. Dinamai surah al- Wâqi’ah (Hari Kiamat), karena diambil dari perkataan al- Wâqi’ah yang terdapat pada ayat pertama. Pokok pembahasan dalam surah ini adalah uraian tentang hari kiamat dan penjelasan tentang apa yang akan terjadi di muka bumi. Kata al-Wa qi‟ah itu sendiri berarti peristiwa hebat, diambil dari kata Waqi‟ (isim fail), yang berasal dari waqa‟a-yaqa‟u, yang terjadi. Diberi awalan al (lita‟rif) untuk menjadikannya definit (sesuatu yang diiketahui), dan akhirnya ta‟marbutah sebagai isyarat kehebatan dan kesempurnaan peristiwa itu, al-Wa qi‟ah mesti diartikan peristiwa yang sangat hebat yang tidak tersamai keadaannya. Kata ini berbentuk ma‟rifah, meski disebut diawal surah dan belum diungkap sebelumnya. Pesannya kata ini mengisyaratkan sebuah peristiwa yang pasti akan terjadi.[5]

Jika kita melihat kitab Kasyf As-Sa’âdah Fī Tafsīr Sūrah Wâqi’ah  karya Kiai Haji Ahmad Sanusi Sukabumi (1888-1950), bahwa disetiap ayat yang ditafsirkan memiliki penjelasan. Penjelasan ini ia tuangkan dengan menggunakan bahasa Sunda yang ditulis menggunakan aksara arab pegon. Setidaknya penelitian terhadap kitab ini, ada beberapa pembahasan yang akan dituangkan oleh beliau, dari mulai penamaan surah Wâqi’ah, keutamaannya, terjadinya kiamat, pembagian manusia, keadaan orang-orag beriman di surga, keadaan orang-orang kafir  di neraka, dan lain-lain.

Berikut hadis-hadis mengenai keutamaan Qs. Al-Wâqi’ah yang dikutip oleh Kiai Haji Ahmad Sanusi (1888-1950):

1.      Hadis Abu Ubaid ibn Durais bin Abi Usamah Abu Ya’la ibn Marduyah Baihaqi dari Ibn Mas’ud dan Ibn Asakir  dari Ibn Abbas Rasulullah bersabda:

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ أَبَدًا

Artinya: “ Barang siapa yang membaca surah Wâqi’ah, setiap malam maka tidak datang fahila (kemelaratan) dan faqir selamanya”.

Hadis ini ditulis oleh Ahmad Sanusi (1888-1950) dalam kitabnya tentang keutamaan surah Al-Waqi’ah.[6] Hadis di atas di ambil dari keterangan kitab tafsir Ad-Dūr Mansūr fī Tafsīr bil Ma’Tsūr Juz 14 Jalâluddin As-Suyūthi, dengan beberapa riwayat sahabat seperti, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Anas bin Malik.[7] Dan hadis ini juga merujuk pada tafsir Al-Khazin yang menjelaskan secara singkat tentang surah Wâqi’ah.[8] Berdasarkan hadis yang ditulis oleh Ahmad Sanusi (1888-1950) mengandung pesan bahwa orang yang mendawamkan atau meritualkan membaca surah Wâqi’ah dijauhkan dari kesengsaraan dan kefakiran baik dari segi harta selama hidupnya disamping usaha dan bekerja yang sedang dilakukan.

 

2.      Hadis Marduwyah dari Anas bin Malik

سُورَةُ الْوَاقِعَةِ سُورَةُ الغِنىَ فا قَرَأُها وَعَلّمُوهاَ أَولاَدكُمْ

Artinya: “Adapun Surah Wâqi’ah yaitu surah kekayaan, maka bacalah dan ajarkan kepada anak-anak kalian.” Hadits diatas menjelaskan bahwa surah Wâqi’ah memiliki keutamaan  bagi setiap muslim yang membacanya, sebagaimana sahabat Anas bin Malik berkata Rasulullah SAW Bersabda :

علّموا نساءكم سورة الواقعة فانها سورة الغنى

Artinya: “Ajarilah wanitamu surah Wâqi’ah, karena surah Wâqi’ah adalah surah kekayaan”.[9]

Dari sini jelas bahwa Rasulullah menyampaikan dalam hadis di atas orang yang mengamalkan membaca surah Wâqi’ah memiliki dampak yang besar bagi kehidupan manusia disamping usaha yang ia sedang kerjakan.

 

3.      Imam Masyruq

من أراد أن يعلم نبأ الأولين ونبأ الآخرين ونبأ أهل الجنة ونبأ أهل النار ونبأ

 الدنيا ونبأ الآخرة، فليقرأ سُورَةُ الواقعة.

Artinya: “ Barang siapa yang ingin mengetahui cerita ummat dahulu dan ummat sekarang dan ceritanya ahli surga dan ceritanya ahli neraka dan ceritanya ahli dunia dan akhirat, maka harus membaca surah Wâqi’ah”.[10]

Hadis tersebut menjelaskan bahwa membaca surah Wâqi’ah memiliki pesan dan kandungan yang berarti bagi kehidupan manusia yang senantiasa penuh warna tinta-tinta amal yang diperbuat selama hidup di dunia dan juga balasan yang akan diterima di akhirat kelak, dengan demikian bahwa fadilah atau keutamaan surah wâqi’ah yang dikutip oleh Ahmad Sanusi dalam kitab Kasyf as-Sa’âdah fī Tafsīr Sūrah Wâqi’ah sebagai bukti bahwa keberhasilan sesuatu hal itu butuh tangga agar mudah tercapai tujuan hidup yang sedang berjalan.

B.     Analisis Penafsiran Surah Wâqi’ah

1.      Penafsiran Qs. Al-Wâqi’ah: 27-30

وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِينِ (27) فِي سِدْرٍ مَخْضُودٍ (28) وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ (29)

 وَظِلٍّ مَمْدُودٍ (30)

Artinya: “Golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu, (Mereka) berada diantara pohon bidara yang tidak berduri,  pohon pisang yang buahnya bersusun-susun, naungan yang terbentang luas”.  (Q.S. Al-Waqiah/56:27-30).

Adapun terjemah kiai Haji Ahmad Sanusi (1888-1950) pada ayat di atas ialah “Jeung golongan ahli beulah katuhu, saha ari golongan jalma  beulah katuhu teh, eta jalma-jalma anu aya dihandapeun tangkal bidara anu teu aya cucukan, jeung dina handapeun tangkal cau anu buahna susun-susun, jeung ari dina handapeun iyuh-iyuhan anu tetep langgeung  salilana.”[11] Terjemah ke dalam bahasa Sunda hampir mirip dengan apa yang diterjemahkan oleh terjemah Al-Qur’an Kemenag. Ahmad Sanusi (1888-1950) menjelaskan dan menafsirkan ayat di atas dengan memberikan hadits yang berbunyi:

قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم أنّها تنبت تمرا يفتق التمر منها عن اثنين

وسبعين لونا من الطّعام ما فيها لون يشبه الأخر

Hadits di atas menjelaskan bagaimana ayat 28 diberikan penjelasan bahwa kayu As-Sidir (سِدْرٍ) yaitu buahnya tujuh puluh dua rupa yang memiliki perbedaan setiap rupa dan rasa.[12] Imam Jalâluddin As-Suyūthi menjelaskan dengan mengutip Abd. Bin Hamid, Ibn Jarir dan Al-Baihaqi meriwayatkan bahwa mereka takjub  dengan pemandangan naungan pohon tamariska dan siwalah kemudian di antara pohon bidara yang hijau dan pohon tamariska yang rimbun serta rindangnya pohon kurma bercincin hitam.[13] An-Nasafi menjelaskan bahwa As-Sidr (سِدْرٍ) pohon bidara yang berwarna hijau seolah-olah telah dicabut durinya.[14] Hal serupa dijelaskan oleh Al-Khozin, bahwa pohon bidara tidak memiliki duri dan sudah terpotong atau di cabut, pohon bidara juga memiliki buah yang lebih besar dari kendi yakni Nabq.[15] At-Thobâri juga berpendapat bahwa As-Sidr (سِدْرٍ) yaitu pohon bidara yang mana  ketika berbuah pohon tersebut tidak nampak duri di dalamnya.[16] Dari penjelasan di atas bahwa Ahmad Sanusi dalam menafsirkan As-Sidir (سِدْرٍ)  mengambil rujukan-rujukan beberapa tafsir klasik yang sudah di jelaskan di pendahuluan kitab Kasyf as-Sa’âdah fī Tafsīr Sūrah Wâqi’ah, bahwa golongan yang mendapat kenikmatan oleh Allah SWT yaitu dengan memberinya keteduhan di bawah pohon bidara yang memiliki buah dan tidak berduri.

Penjelasan selanjutnya yaitu mengenai QS. Al-Waqi’ah/56:29 pada lafadz Thalh (طَلْحٍ), Ahmad Sanusi (1888-1950) menterjemahkannya yaitu pisang. Kebanyakan mufassir menyebutnya pisang, pohon ini bermanfaat yakni memiliki keteduhan yang sejuk, dan sebagian pohon ini disebut pohon um Ghailan pohon ini memiliki buah yang di tumpuk dan di tata buahnya dari awal sampai akhir.[17] Pada penjelasan Ahmad Sanusi (1888-1950), bahwa pisang disini tidak seperti pisang yang berada di dunia, ia merinci bahwa akar dan batangnya itu penuh dengan buah dan memiliki kemanisan yang sangat daripada madu dan buah-buahan.[18] Penjelasan lafadz Thalh (طَلْحٍ) Ali bin Abi Tahlib juga menterjemahkannya yaitu pisang, begitu Ibn Abbas, Abu Hurairah, Abu Said Al-Khudri. Talh Mandud (وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ) yakni pisang yang terhormat, memiliki susunan yang rapi.[19]

Ahmad Sanusi (1888-1950) mengutip beberapa keterangannya dengan memberikan sebuah hadis yang di riwayatkan oleh Abu Hurairah dari Nabi SAW “ Saenya-enyana kubangan surga eta di jerona diubin, ubina dipasang ubin emas, jeung ubin perak, jeung ari palataran surga eta emas, jeung kesikna intan, jeung ari leutakna surga eta kasturi, jeung ari tanehna surga eta ja’faron, jeung dina heuleut-heuleutna taneuh eta Sidrun Mahdud (سِدْرٍ مَخْضُودٍ),  Talh Mandud (وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ), dhillun Mamdud (ظِلٍّ مَمْدُودٍ).[20] Hal ini serupa di sampaikan oleh Imam As-Suyūthi dalam tafsirnya dengan mengutif hadis yang artinya : “ Dinding surga terbuat dari emas lunak, dan batu-batunya dari perak. Lantai surga tebuat dari emas, tanahnya  dari mutiara, tanah liatnya dari kasturi dan tanahnya dari kunyit. Di dalamnya terdapat pohon bidara tidak berduri, pohon pisang yang tersusun rapi, naungan yang luas dan air yang mengalir”.[21]

Penjelasan QS. Al-Waqi’ah/56:30 dhillun Mamdud (ظِلٍّ مَمْدُودٍ), ayat ini di jelaskan bahwa ini merupakan tempat yang di dalamnya terdapat naungan yang kekal dan tidak terkena sinar matahari, segala sesuatu yang tidak ada ujungnya dalam artian luas.[22] Ahmad Sanusi (1888-1950) menjelaskan bahwa ini adalah tempat yang teduh yang tidak pernah panas, terangnya bukan oleh matahari melainkan oleh Nūr atau cahaya, sebagaimana pejelasan hadis yang di kutip oleh Ahmad Sanusi. Al-Khozin (678-741 H) juga menjelaskan bahwa lafadz dhillun Mamdud (ظِلٍّ مَمْدُودٍ), dimaknai dengan naungan yang luas, kekal dan matahari yang tidak meneranginya. Ia mengutip hadis dari Abu Hurairah “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: di surga ada sebuah pohon yang di bawah naungan seorang pengendara, dapat melakukan perjalanan  selama seratus tahun, jika anda ingin naungan yang luas”.[23] Imam As-Suyūthi menjelaskan bahwa dhillun Mamdud (ظِلٍّ مَمْدُودٍ), naungan yang luas diibaratkan sebatang pohon atau tangkai, yang naungannya sama dengan perjalanan seseorang menuju ke segala arah sebanyak seratus tahun lamanya, Umar bin Maimun waktu tersebut adalah tujuh puluh ribu tahun.[24]

 

C.    Analisis Lokalitas: Bahasa, Aksara, Dan Sosial Budaya Penafsiran Surah Wâqi’ah

Tafsir Kasyf as-Sa’âdah fī Tafsīr Sūrah Wâqi’ah karya Kiai Haji Ahmad Sanusi (1888-1950) adalah karya tafsir Al-Qur’an yang yang ditulis dengan aksara arab pegon berbahasa Sunda. Sebagaimana Gusmian menjelaskan dalam bukunya dalam pembahasan aspek penulisan sebuah karya tafsir seorang mufassir. Hal ini menjadi ciri tersendiri dalam sebuah kitab atau buku tafsir.  Kalangan masyarakat Islam di Indonesia begitu peduli pada Al-Qur’an terbukti dari banyak fenomena yang muncul dari kebiasaan yang rutin yang mereka lakukan dari generasi ke generasi di semua kalangan keagamaan. Mereka berhubungan dengan Al-Qur’an melalui bacaan Al-Qur’an, memahami tafsir dan banyak lagi interaksi mereka terhadap Al-Qur’an. Kehadiran Al-Qur’an di dalam kehidupan umat Islam sehari-hari sebagai norma dan praktek terkait dengan Al-Qur’an selalu berkembang. Beberapa dari praktek-praktek tersebut bersifat umum diketahui oleh mayoritas umat Islam. Sementara sebagian praktek-praktek lainnya lebih khusus hanya untuk budaya dan jangka waktu tertentu. Semua praktek atau tindakan ini merupakan bentuk dari penghormatan terhadap Al-Qur’an sebagai kalamnya Allah SWT.

Kembali kepada pembahasan tentang penafsiran yang dipakai oleh KIai Haji Ahmad Sanusi (1888-1950) dalam kitabnya Kasyf as-Sa’âdah fī Tafsīr Sūrah Wâqi’ah bahwa ia menjelaskan bahkan menggunakan bahasa tafsirnya yaitu bebas artinya ia menyampaikan bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami oleh masyarakat. Metode yang dipakai beliau dalam tafsirnya cenderung pada metode Ijmâli (global), dimana Ahmad Sanusi menafsirkan Al-Qur’an dan menyimpulkan ayat-ayat yang dibahas secara umum atau global, kadang ia memakai bahasa Sundanya seperti bahasa cara menarkib sebuah lafadz.[25] Penjelasan Q.S. Al-Waqi’ah/56:28 bahwa kalimah As-Sidir (سِدْرٍ)  terdapat pada surah Saba:16 dan An-Najm 14 dan 16, Ahmad Sanusi (1888-1950) dalam membahas ayat di atas sebagaimana ia menjelaskannya yaitu dengan menggunakan bahasa yang cukup mudah dipahami oleh orang Sunda. Ia menafsirkannya dengan kebun-kebun kayu.  hal ini menjadi lumrah sebagai orang sunda pada saat itu bahwa kehidupan masyarakatnya yaitu bertani dan berkebun, bahkan di setiap wilayah di Jawa Barat bahwa kemajuan ekonomi masyarakatnya yaitu dengan cara bertani dan berkebun.[26]

Ahmad Sanusi (1888-1950) juga menambahkan penjelasannya bahwa kayu yang di maksud yaitu Kayu Sidr. Pada tafsir lain ia mengatakan bahwa kalimah As-Sidir (سِدْرٍ) ia tafsirkan yaitu pohon bidara. Namun penjelasan ini berkaitan dengan cerita negeri Saba, yang tanahnya dulu subur makmur, menjadi sebuah bencana karena tidak taat dan beriman kepada Rasul, sehingga pohon-pohon yang ditanam berbuah sedikit untuk kebutuhan kehidupan. Disini bahwa secara bahasa kalimah As-Sidir (سِدْرٍ) dimaknainya dengan berbeda konteks[27]. Konteks yang berbeda ini menjadi sebuah analisa bahwa As-Sidir (سِدْرٍ) dinamai pohon bidara, kayu bidara, tangkal bidara bisa tumbuh di tanah yang subur. Daun tanaman bidara merupkan salah satu tanaman yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan  disebutkan dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW, dalam Al-Qur’an tanaman bidara disebutkan sebagai tanaman Sidr.[28] Melihat sejarah salah satu tumbuhan yang sering dijumpai di jazirah Arab adalah pohon sidr atau biasa disebut pohon bidara. Bidara memiliki nama latin yaitu Ziziphus Mauritiana. Hadis juga menyebutkan tanaman ini untuk proses ibadah. Tanaman bidara ini disebutkan dalam hadis bisa digunakan untuk memandikan jenazah dan selain itu juga bisa digunakan untuk obat-obatan.[29] Selain itu, daun bidara juga bisa digunakan sebagai mandi wajib untuk wanita. Tumbuhan ini sangat populer di jazirah Arab karena memiliki banyak kegunaan. Pohon bidara ini tumbuh tinggi dan lebat sehingga bisa digunakan untuk berteduh dari teriknya sinar matahari. Pohonnya yang besar sehingga memiliki akar yang kuat tertanam di dalam tanah maka pohon ini tidak memerlukan siraman air. Pohon bidara menghasilkan buah, selain itu daunnya bisa digunakan untuk membersihkan badan.[30] Tumbuhan bidara selalu digunakan pada tradisi Kenabian. Sebab, tumbuhan bidara banyak tumbuh dan banyak ditemukan di jazirah Arab, maka Nabi Muhammad saw menyarankan untuk menggunakannya untuk keperluan seperti memandikan jenazah, mencuci, dll.

Penafsiran selanjutnya yaitu mengenai Qs. al-Wāqi’ah/ 56:29 yang memiliki nilai dan makna yang terkandung dalam ayatnya yakni Talh Mandud (وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ) Kata alin atau al-alhu adalah masdar dari kata alaha yang mempunyai arti Pisang. Ahmad Sanusi (1888-1950) dalam menafsirkan kalimat ini merujuk kepada buah-buahan yang sering di konsumsi masyarakat pada umumnya yakni pisang atau istilah Sunda cau. Sementara jika kita melihat terjemah sunda yang lain Ahmad Sanusi (1888-1950) menterjemahkannya “Jeung dina handapeun tangkal cau anu buahna susun-susun” bahwa dalam tafsir lain ia menjelaskan bahwa orang yang mendapatkan kenikmatan  dalam hal ini golongan kanan yakni mendapatkan keteduhan di bawah pohon pisang yang berbuah serta bersusun rapi, dibawahnya terdapat air yang mengalir tanpa henti.[31] Ia menambahkan bahwa pisang disini tidak seperti di dunia, ia menjelaskan bahwa dari mulai akar sampai dahan penuh dengan buah-buah tidak nampak pohonnya, kemudian rasa buah tersebut lebih manis daripada madu dan wangi menghirupnya dan terlihat indah ketika di pandang. Disinilah memungkinkan  gambaran kenikmatan surga yang Allah SWT janjikan kepada golongan tersebut. Penjelasan Qs. al-Wāqi’ah/ 56:29 dijelaskan kembali pada ayat Qs. al-Wāqi’ah/ 56:85

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لَا تُبْصِرُونَ

Artinya: “Dan kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak meihat”.

ayat al-Wāqi’ah/ 56:85 di atas dijelaskan mengenai bagaimana seorang hamba yang beriman akan Allah SWT berikan kepadanya beberapa kenikmatan atas dasar kepayahan dan kesusahan ketika hidup di dunia yaitu diiringi oleh lima ratus malaikat dengan membawa kain dari surga, wewangian, bunga yang mana satu bungan memiliki 20 jenis yang berbeda, membawa sutra yang berwarna putih, dan dibawakan minyak kasturi. Penjelasan tersebut adalah bagaimana seorang hamba yang mati dalam ketaatan beribadah kepada Allah SWT.[32] Ahmad Sanusi (1888-1950) juga memberikan penjelasan pada ayat ini, dengan menukil kembali ayat Qs. al-Wāqi’ah/ 56:88-89 walaupun pada ayat tersebut akan di jelaskan kembali.

فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ (88) فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ

Artinya: “Jika dia (orang yang mati) itu termasuk yang didekatkan (kepada Allah SWT), maka dia memperolah ketentraman dan rezeki serta surga (yang penuh kenikmatan)”.

Bahwa kita ketahui orang yang meninggal dalam ketaatan yang baik kepada Allah SWT akan di perlihatkan balasan yang ia terima. Sebagai petugas pelaksana balasan yakni malaikat akan mengiringi ruh orang, kemudian dibawa ke langit untuk dipertemukan dengan malaikat Jibril dengan diringi oleh sebanyak tujuh puluh ribu malaikat hingga ke Arasy dan ruh tersebut sujud kepada Allah SWT. Kemudian Allah SWT akan perintahkan kepada malaikatnya dengan mengucap:

فِي سِدْرٍ مَخْضُودٍ (28) وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ (29) وَظِلٍّ مَمْدُودٍ (30) وَمَاءٍ مَسْكُوبٍ (31)

Disini Ahmad Sanusi (1888-1950), memberikan penjelasan ayat lagi ketika menafsirkan ayat Qs. al-Wāqi’ah/ 56:85, dengan begitu penjelasan ayat satu dengan ayat berikutnya ada keterkaitan sebagai peguatan kembali terhadapan penafsiran sebuah ayat. Namun ia tidak menjelaskan kembali maksud penafsiran ayat dengan ayat lagi, tetapi ia sudah menjelaskan ayat itu sebelumnya.[33]



[1] Abī Ja’far Muhammad bin Jarīr At-Thobarâ, Tafsīr At-Thobarī Jâmi al-Bayân an Ta’wīl al-Qurân Juz 22 (Dirasah Al-Arabiyyah Islamiyyah, Al-Qohirah 2001), h. 279.

[2] Muhammad Makhdlori, Bacalah Surah Al-Waqiah, Maka engkau Akan Kaya”. (Yogyakarta: Diva Press, 2011), h. 42.

[3] M. Quraish Shihab. 2002. “Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-qur’an”. (Jakarta: Lentera Hati), h. 335-336.

[4] Suhandi, Zakia Machdi “Multi Perspektif Surat Al Waqiah” (Jakarta, Ilmu Pendidikan Islam B. 2015), h.06.

[5] Tafsir Ilmi “Kiamat dalam perspektif al-Qur‟an, cet I (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran LITBANG Kemenag RI “Al- Qur’ann dan Terjemahan), h. 779.

[6] KH. Ahmad Sanusi, Kasyf as-Sa’âdah fī Tafsīr Sūrah Wâqi’ah (Tanah Tinggi Betawi, Sayyed Yahhya, ).

[7] Jalâluddin As-Suyūthi, Ad-Dūr Mansūr fī Tafsīr bil Ma’Tsūr Juz 14 (Al-Qohirah, 2003), h. 173.

[8] Ala Al-Din Abu Hasan Ali Abu Muhammad bin Ibrahim  bin Umar bin Khalil Al-Syaikhi Al-Baghdadi Al-Syafii al-Khazin, Tafsīr Al-Khozin: Lubabu At-Ta’wīl fī Ma’ânī At-tanzīl,  Juz 4, (Beirut, Dar Kutub Ilmiyyah, 2004), h. 234.

[9] Jalâluddin As-Suyūthi, Ad-Dūr Mansūr fī Tafsīr bil Ma’Tsūr Juz 14 (Al-Qohirah, 2003), h. 174.

[10] Jalâluddin As-Suyūthi, ..... h. 174.

[11] KH. Ahmad Sanusi, Kasyf as-Sa’âdah fī Tafsīr Sūrah Wâqi’ah (Tanah Tinggi Betawi, Sayyed Yahhya, ), h. 7.

[12] KH. Ahmad Sanusi, Kasyf as-Sa’âdah fī Tafsīr Sūrah Wâqi’ah, h. 7.

[13] Jalâluddin As-Suyūthi, Ad-Dūr Mansūr fī Tafsīr bil Ma’Tsūr Juz 14, h. 190.

[14] Abdullah bin Ahmad bin Mahmud An-Nasafi, Tafsīr an-Nasâfī  Madâriku Tanzīl wa Haqâiq at-Ta’wīl  Juz 3 (Beirut, Darul Kalim A-Tayib), h. 422.

[15] Ala Al-Din Abu Hasan Ali Abu Muhammad bin Ibrahim  bin Umar bin Khalil Al-Syaikhi Al-Baghdadi Al-Syafii al-Khazin, Tafsīr Al-Khozin: Lubabu At-Ta’wīl fī Ma’ânī At-tanzīl,  Juz 4, (Beirut, Dar Kutub Ilmiyyah, 2004), h. 236.

[16] Abi Ja’far At-Muhammad Ibn Jarir At-Thobari, Tafsir At-Thobarii Jaami’ul Bayaan ‘An Ta’wiilil Quran Jilid 22 (Qohiroh, 2001), h. 306.

[17] Ala Al-Din Abu Hasan Ali Abu Muhammad bin Ibrahim  bin Umar bin Khalil Al-Syaikhi Al-Baghdadi Al-Syafii al-Khazin,.... h. 236.

[18] KH. Ahmad Sanusi, Kasyf as-Sa’âdah fī Tafsīr Sūrah Wâqi’ah, (Tanah Tinggi Betawi, Sayyed Yahhya, ), h. 7.

[19] Jalâluddin As-Suyūthi, Ad-Dūr Mansūr fī Tafsīr bil Ma’Tsūr Juz 14 (Al-Qohirah, 2003), h. 193 lihat. Abi Ja’far At-Muhammad Ibn Jarir At-Thobari, Tafsir At-Thobarii Jaami’ul Bayaan ‘An Ta’wiilil Quran Jilid 22 (Qohiroh, 2001), h. 311.

[20] KH. Ahmad Sanusi, Kasyf as-Sa’âdah fī Tafsīr Sūrah Wâqi’ah, ...... h. 8.

[21] Jalâluddin As-Suyūthi, ....... , h. 194.

[22] Abi Ja’far At-Muhammad Ibn Jarir At-Thobari, Tafsir At-Thobarii Jâmi’ul Bâyân ‘An Ta’wiilil Quran Jilid 22 (Qohiroh, 2001), h. 313.

[23] Ala Al-Din Abu Hasan Ali Abu Muhammad bin Ibrahim  bin Umar bin Khalil Al-Syaikhi Al-Baghdadi Al-Syafii al-Khazin, ...... h. 237.

[24] Jalâluddin As-Suyūthi, ...... , h. 314.

[25] Jajang A Rohmana, Sejarah Tafsir Al-Quran di Tatar Sunda, .... h.149.

[26] Koentjara Ningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, (Jakarta, Djambatan 2004), h. 314.

[27] Ahmad Sanusi, Raudhatul Irfān fī Ma’rifātil Al-Qur’ān, Juz 16-30 (Sukabumi, Yayasan Pesantren Gunungpuyuh,1987), h. 756.

[28] Maulana Siregar, Berbagai Manfaat Daun Bidara (Ziziphus Mauritiana Lamk) Bagi Kesehatan Di Indonesia (Jurnal, Pandu Husada 2020), h. 75.

[29] Siti Nurwanis Mohamed Dkk, “Elemen Keindahan Dalam Tumbuhan Menurut Al-Quran Dan Al-Hadith Satu Tinjauan Awal,” (Jurnal Al Turath 5),  (2020).

[30] Alvira Putri Marlinia, Tumbuhan Sidr dalam Al-Quran, Skripsi  (Surakarta, 2023), h.30.

[31] Ahmad Sanusi, Raudhatul Irfān fī Ma’rifātil Al-Qur’ān, Juz 16-30 (Sukabumi, Yayasan Pesantren Gunungpuyuh,1987),  h. 1017.

[32] KH. Ahmad Sanusi, Kasyf as-Sa’âdah fī Tafsīr Sūrah Wâqi’ah, ......  h. 19.

[33] KH. Ahmad Sanusi, Kasyf as-Sa’âdah fī Tafsīr Sūrah Wâqi’ah, ..... h. 21.

Komentar

Postingan Populer